Out of stock
Sudah sekitar dua bulan ini persediaan minyak kayu putih kami habis. Ketika Kirana lahir, kami punya berbotol-botol, di bawa nenek Kirana dari Indonesia.
Ternyata frekuensi pemakaian minyak kayu putih kami cukup tinggi. Di London yang dingin ini (apalagi kalau musim dingin) minyak kayu putih adalah "kawan" yang ampuh untuk menghangat badan ketika masuk angin, atau gangguan perut, dan satu lagi untuk kerokan.
Karena tidak ada minyak kayu putih, "ritual" kerokan dengan sendirinya juga tak bisa dilakukan. Pernah beli balsam cap harimau buatan Singapura di supermarket Sainsbury. Tapi aromanya beda. Tak mantap rasanya berkerokan ria dengan balsam itu.
Untungnya, ada seorang teman yang pulang ke Yogyakarta. Ketika ia bertanya apa ada sesuatu yang dibutuhkan, Rani, istri saya langsung menjawab, "Minyak kayu putih, dong."
Menulis minyak kayu putih, saya jadi ingat kejadian beberapa tahun lalu ketika bekerja di Jakarta. Suatu siang saya naik bus dari depan Stasiun Gambir menuju Slipi.
Bus penuh sesak. Tiba-tiba ada seorang penjual naik, dan langsung berpromosi dengan suara keras. "Iyak, bapak-bapak, ibi-ibu yang lagi butuh minyak kayu putih, ini saya bawakan barangnya dengan harga istimewa," katanya bersemangat.
Sambil berpromosi, ia meletakkan botol-botol kecil warna hijau dengan tutup hitam di pangkuan setiap penumpang. "Di sembarang toko, di sembarang warung, minyak kayu putih Cap Lang ini dijual seharga 4 ribu rupiah. Siang ini, saya pakai harga istimewa. Cuma seribu rupiah saja. Ayo siapa yang mau...," katanya lagi.
Prmosinya berhasil. Terbukti banyak penumpang yang merogok kocek. Dan lembaran-lembaran seribuan pun berpindah tangan. Seorang ibu yang duduk di samping saya juga ikut membeli. "Lumayan lho. Soalnya di warung sebelah harganya mahal," kata si ibu sambil mengamati botol kecil ditangannya.
Ups. Tunggu dulu. Wajahnya tiba-tiba berubah. Alis matanya hampir bertemu. Ia berkata, "Ini bukan Cap Lang. Ini minyak kayu putih Cap *Walang. Pantesan murah...."
*walang (bahasa jawa) : belalang
Wednesday, March 03, 2004
Edisi rangkuman saja
Ternyata sudah hampir setengah bulan tidak posting. Ada banyak cerita yang ingin dibagi, namun karena ini dan itu, cerita-cerita itu akhirnya tak sampai di sini. Berikut rangkuman cerita yang sebenarnya ingin dibagi :
1. London akhir Februari kembali dingin minta ampun. Hari Sabtu (28/2) bahkan salju tipis kembali turun. Padahal pohon-pohon di tepi jalan sudah mulai menampakkan daun, tanda musim semi tiba.
2. Rani, istri saya, selama beberapa hari lalu "benci komputer". Begitu mendengar bunyi komputer dihidupkan, langsung bersungut-sungut. Sekarang sepertinya penyakit "benci komputer"-nya sudah hilang. Tadi pagi ia sempat buka email dan membuka halaman maya koran The Times.
4. Kirana bisa kembali menikmati Finding Nemo. Bebeberapa bulan lalu sempat punya copy-nya, namun rusak karena diputar setiap hari.
Ternyata sudah hampir setengah bulan tidak posting. Ada banyak cerita yang ingin dibagi, namun karena ini dan itu, cerita-cerita itu akhirnya tak sampai di sini. Berikut rangkuman cerita yang sebenarnya ingin dibagi :
1. London akhir Februari kembali dingin minta ampun. Hari Sabtu (28/2) bahkan salju tipis kembali turun. Padahal pohon-pohon di tepi jalan sudah mulai menampakkan daun, tanda musim semi tiba.
2. Rani, istri saya, selama beberapa hari lalu "benci komputer". Begitu mendengar bunyi komputer dihidupkan, langsung bersungut-sungut. Sekarang sepertinya penyakit "benci komputer"-nya sudah hilang. Tadi pagi ia sempat buka email dan membuka halaman maya koran The Times.
4. Kirana bisa kembali menikmati Finding Nemo. Bebeberapa bulan lalu sempat punya copy-nya, namun rusak karena diputar setiap hari.
Monday, February 16, 2004
Sehari tanpa Kirana
Selama sekitar setengah bulan saya berada di rumah. Selama kurun itu pula "jam main" saya dengan Kirana meningkat tajam. Dari bangun pagi sampai tidur lagi, Kirana ada di depan mata. Hal yang tak terjadi kalau saya masuk kerja. Jadwal kerja kadang membuat saya tidak "ketemu" dengan Kirana. Saya pergi ketika Kirana masih tertidur dan pulang ketika ia sudah tidur.
Itu tidak sering terjadi. Hanya sesekali saja. Yang biasa terjadi adalah pagi saya bisa ketemu dan petangnya juga masih sempat bertemu. Dalam keadaan seperti ini, saya masih punya waktu menemaninya makan malam, main sebentar, menggosok gigi, menyiapkan susu hangat, dan mengantarnya tidur.
Ketika saya berangkat kerja tadi pagi, saya sempat kuatir Kirana akan mencari-cari saya. Ketika berada di kantor, saya juga merasakan sempat muncul "keinginan untuk bermain" dengan Kirana. Saya menilpon mummy-nya. Dia bilang Kirana baik-baik saja dan tidak mencari-cari saya.
Pukul 16.47 saya tiba di rumah. Saya membuka pintu pelan-pelan. Dari ruang tamu terdengar suara khas Pingu, film tentang penguin kecil yang lucu. Saya baru saja meletakkan tas punggung di tangga di dekat rak sepatu, ketika Kirana tahu saya pulang.
Ia langsung berlari dan memeluk saya. "Hallo, Ayah," teriak Kirana dengan mata berbinar-binar. Ia mencium pipi kiri saya. "Did you miss me?" saya bertanya sambil menggendongnya ke ruang tamu. "Yes," jawabnya sambil terus menggelayut.
Saya menggelitik perutnya. "Oh, you're tickling me," kata Kirana. Ia tertawa terpingkal-pingkal. Mendengar tawanya, penat sehabis kerja pun hilang...
Itu tidak sering terjadi. Hanya sesekali saja. Yang biasa terjadi adalah pagi saya bisa ketemu dan petangnya juga masih sempat bertemu. Dalam keadaan seperti ini, saya masih punya waktu menemaninya makan malam, main sebentar, menggosok gigi, menyiapkan susu hangat, dan mengantarnya tidur.
Ketika saya berangkat kerja tadi pagi, saya sempat kuatir Kirana akan mencari-cari saya. Ketika berada di kantor, saya juga merasakan sempat muncul "keinginan untuk bermain" dengan Kirana. Saya menilpon mummy-nya. Dia bilang Kirana baik-baik saja dan tidak mencari-cari saya.
Pukul 16.47 saya tiba di rumah. Saya membuka pintu pelan-pelan. Dari ruang tamu terdengar suara khas Pingu, film tentang penguin kecil yang lucu. Saya baru saja meletakkan tas punggung di tangga di dekat rak sepatu, ketika Kirana tahu saya pulang.
Ia langsung berlari dan memeluk saya. "Hallo, Ayah," teriak Kirana dengan mata berbinar-binar. Ia mencium pipi kiri saya. "Did you miss me?" saya bertanya sambil menggendongnya ke ruang tamu. "Yes," jawabnya sambil terus menggelayut.
Saya menggelitik perutnya. "Oh, you're tickling me," kata Kirana. Ia tertawa terpingkal-pingkal. Mendengar tawanya, penat sehabis kerja pun hilang...
Sunday, February 15, 2004
Ucapan di receipt belanja
Saya jarang berbelanja di hari Minggu. Apalagi Minggu pagi. Alasannya sederhana, saya masuk kerja. Kebetulan hari ini saya masih libur dan harus keluar rumah untuk membeli tiket kereta mingguan. Begitu masuk Safeway, supermarket terdekat dari rumah, sama melihat para pembelanja sibuk mencari barang atau item yang diinginkan.
Seorang ibu muda berjalan agak tergegas melewati saya. Hmm, harum. Seorang bapak yang usianya terlihat sekitar 30-an, yang berdiri di samping saya, di dekat rak-rak buku dan majalah juga menerbitkan aroma yang kurang lebih sama. Mungkin, orang punya banyak waktu di akhir pekan seperti ini untuk berendam di bath tub, sehingga mereka terlihat segar. Mungkin.
Saya tak berlama-lama di Safeway. Di luar langit mendung. Matahari tak terlihat. Saya tak ingin pulang kehujanan. Begitu mengambil The Sunday Times saya menuju kasir. Beberapa orang di belakang saya tampak membeli beberapa koran. Ada yang beli The Observer, The Mail on Sunday, Sunday Mirror, The Independent on Sunday, dan The News of the World.
Di kasir, ada sekitar lima orang antri. Di depan saya, seorang bapak menenteng botol pewangi pakaian, di depannya seorang ibu yang saya taksir berusia di atas 50 membeli susu dan roti tawar. Di depannya lagi seorang pria menenteng The Mail on Sunday. Di depannya lagi seorang wanita membeli empat pak corn flake. Dan di depannya lagi, seorang wanita muda membeli CD berisi 10 lagu cinta terbaik dan satu set karaoke system. Wajahnya tampak sumringah. Di ujung kasir, seorang pria, mungkin pasangan wanita ini, tengah menanti. Di jarinya tergenggam kartu warna merah muda.
Dan akhirnya tiba giliran saya untuk membayar. Saya melirik receipt belanja. Hal yang jarang saya lakukan. Di bagian atas tertera ... happy valentines day. Saya langsung ingat, Sabtu kemarin adalah 14 Februari.
Saya jarang berbelanja di hari Minggu. Apalagi Minggu pagi. Alasannya sederhana, saya masuk kerja. Kebetulan hari ini saya masih libur dan harus keluar rumah untuk membeli tiket kereta mingguan. Begitu masuk Safeway, supermarket terdekat dari rumah, sama melihat para pembelanja sibuk mencari barang atau item yang diinginkan.
Seorang ibu muda berjalan agak tergegas melewati saya. Hmm, harum. Seorang bapak yang usianya terlihat sekitar 30-an, yang berdiri di samping saya, di dekat rak-rak buku dan majalah juga menerbitkan aroma yang kurang lebih sama. Mungkin, orang punya banyak waktu di akhir pekan seperti ini untuk berendam di bath tub, sehingga mereka terlihat segar. Mungkin.
Saya tak berlama-lama di Safeway. Di luar langit mendung. Matahari tak terlihat. Saya tak ingin pulang kehujanan. Begitu mengambil The Sunday Times saya menuju kasir. Beberapa orang di belakang saya tampak membeli beberapa koran. Ada yang beli The Observer, The Mail on Sunday, Sunday Mirror, The Independent on Sunday, dan The News of the World.
Di kasir, ada sekitar lima orang antri. Di depan saya, seorang bapak menenteng botol pewangi pakaian, di depannya seorang ibu yang saya taksir berusia di atas 50 membeli susu dan roti tawar. Di depannya lagi seorang pria menenteng The Mail on Sunday. Di depannya lagi seorang wanita membeli empat pak corn flake. Dan di depannya lagi, seorang wanita muda membeli CD berisi 10 lagu cinta terbaik dan satu set karaoke system. Wajahnya tampak sumringah. Di ujung kasir, seorang pria, mungkin pasangan wanita ini, tengah menanti. Di jarinya tergenggam kartu warna merah muda.
Dan akhirnya tiba giliran saya untuk membayar. Saya melirik receipt belanja. Hal yang jarang saya lakukan. Di bagian atas tertera ... happy valentines day. Saya langsung ingat, Sabtu kemarin adalah 14 Februari.