Tuesday, January 06, 2004

Canberra, September 1999

Pintu kamarku di City Walk Hotel, Canberra, diketuk. Staf hotel meminta ijin untuk memasukkan handuk baru. Dengan sedikit malas, aku beranjak, membuka gerendel pintu, dan mengambil handuk tebal warna putih. Tak lupa kuucapkan terima kasih. Aku menengok arloji. Uh, jam 08.47 pagi.

Sepertinya aku begitu pulas tidur. Mungkin aku kecapekan, setelah seharian kemarin berada di gedung parlemen. Ketel putih di meja aku nyalakan. Tak lama kemudian, uap dari mulut ketel mengepul, disertai bunyi air yang mulai mendidih. Aku menuangkan air panas ke mangkuk kecil yang telah berisi teh celup. The hangat aku minum perlahan. Ujung cangkir menempel bibir atas dan bawah, mengalirkan air coklat manis ke tenggorokan.

Di antara korden, sinar matahari memasuki kamar membentuk garis putih panjang pada lantai dan dinding yang berwarna krem. Aku sibakkan korden tebal bermotif kembang-kembang. Kamar menjadi terang. Aku putar pula radio saku yang tergeletak di sisi tempat tidur. Terdengar Ronan Keating melantunkan syair-syair lagu :

The smile on your face, lets me know that you need me. There's a truth in your eyes saying you'll never leave me. The touch of your hand says you'll catch me, whenever I fall. You say it best, when you say nothing at all.

Aku sudah hampir 14 hari di sini. Rasanya hari berlalu dengan sangat lambat. Untuk membunuh waktu, aku biasanya duduk di taman di belakang hotel. Di bangku kayu aku menantap lalu lalang, orang-orang yang menikmati musim semi. Di tengah taman ini biasanya ada pertunjukan teater dadakan, musik jalanan, atau happening art.

Bosan di taman, aku menyusuri jalan di sekitar kawasan City Walk. Di sini ada toko buku, warung internet, kafe, supermarket, oriental take away (masakannya enak sekali, khas Asia, dan murah), dan gedung bioskop. Big Daddy adalah salah satu film yang tengah diputar. Terbersit ingin menonoton film ini. Niat ini saya urungkan. Saya membayangkan, pasti tak enak rasanya menonton tanpa "teman".

Ketika hari mulai gelap, inilah ketika "masa-masa sangat sulit" itu mulai datang. Di kamar hotel ini, mata sulit terpejam. Hati saya selalui teringat seorang "teman". Saya merenung dan bertanya : mengapa saya selalu ingat kepadanya? Mengapa ia datang tanpa saya bisa menolak? Mengapa saya begitu merindukannya?

Di hari ke-15, saya menilpon kantor di Surabaya. Saya katakan penugasan saya telah selesai dan saya akan pulang. Surabaya memberi ijin. Saya langsung ke kantor Qantas dan mengurus tiket pulang. Urusan tiket selesai lebih cepat. Saya mengemasi barang, dan "menikmati" kamar hotel untuk terakhir kalinya. Aku pasti akan mengingatnya. Di sinilah aku memutuskan : suatu saat nanti akan aku raih hatinya. Kamar hotel ini pulalah yang membuat aku merasa dekat, meski kami berbeda jarak ribuan kilometer.

Aku tenteng ransel hitam dan turun ke lobi. Aku minta staf hotel memanggil taksi ke bandara. Kurang dari 10 menit kemudian taksi datang, dan membawaku ke bandara. Dalam hati aku berkata, "Rani, aku kembali ke Jakarta."




Munchen, awal Desember 1998

Aku baru saja tiba di kota ini. Jam menunjukkan pukul 12.05 siang. Aku sedang mengantar teman mencari telepon umum. Sambil tersaruk-saruk di antara serakan salju tebal, akhirnya kami mendapati telpon umum, sekitar 50 meter dari hotel tempat menginap.

Ia menilpon istrinya di Jakarta. Saya sedikit menjauh. Tak enak rasanya mendengar pembicaraan mesra mereka. Salju masih turun. Butir-butir putih melayang jatuh ke tanah, menumpuk satu sama lain. Matahari tak terlihat.

"Oke, sudah ya. Nanti malam saya akan telpon lagi," kata teman saya menutup pembicaraan. Dari telpon umum ini, saya merasa "kering dan kosong". Saya tak punya "teman" yang bisa saya ajak untuk sekedar berbagi rasa. Saya tak punya "teman" untuk sekedar berkata, "Hai, saya di Munchen. Dingin di sini, bagaimana kabarmu?"

Saya memang punya satu "teman". Tapi rasanya dia "jauh" sekali. Tapi ia kadang begitu "dekat". Tanpa saya sadari, sejak pertama kali bertemu, ia hadir tanpa saya undang dalam perasaan saya. Dan di Munchen ini, saya tak berani, meski hanya sekedar untuk menelponnya.

Saya bergegas masuk kamar hotel. Membuka mantel tebal, cuci muka, dan rebah di tempat tidur empuk yang ukurannya tak begitu besar. Hari belum begitu sore, tapi rasanya sudah agak gelap. Di layar televisi, tampak Robbie Williams melantunkan lagu anyarnya, Millenium.

Saya beranjak dan mendekati jendela kaca. Di kamar yang dilengkapi alat penghangat ini, kaca berembun. Permukaannya seakan terlapisi ribuan bintik-bintik air.

Sambil menerawang ke arah jalan yang kini seluruhnya tertutupi salju, jariku bergerak dan menulis di kaca. "Rani, I miss u so much".
Gina Ballerina

Namanya Gina Ballerina. Tubuhnya ramping, sangat ramping bahkan. Rambutnya berwarna kuning, dengan pakaian warna pink. Dan bila punggungnya dipencet, akan terdengar alunan polyphonic yang biasa mengiringi ballet.

Ya, Gina adalah nama boneka terbaru Kirana. Dibeli Sabtu lalu ketika Kirana dan mummy-nya pergi ke Woolwich. Mummy-nya bilang, ketika mampir di Marks & Spencer tiba-tiba Kirana melihat boneka itu dan minta dibelikan. Kirana sebenarnya punya banyak boneka dan kali ini mummy-nya berpikir belum saatnya untuk membeli yang baru.

"Tapi Kirana nggak mau jalan sebelum mendapat jaminan bahwa boneka itu akan dibeli," kata mummy-nya. Agaknya Kirana punya jurus baru untuk "memaksa" mummy-nya membeli boneka itu.

Bujukan, rayuan, apalagi penjelasan, tak bisa melunakkan keinginan Kirana. Mummy-nya terpaksa merogok kocek dan membeli boneka yang bernama Gina itu. Kirana senang bukan main. Ia ajak Gina bermain. Ia kasih handuk, selimut, dan diajaknya menari. Pagi tadi, sehabis bangun tidur, sambil memegang Gina, ia bertanya di mana ibu Gina. Saya jawab, "Ibu Gina ada di Cina." Saya jawab Cina, karena di label boneka itu tercantum made in China.

Tadi, sebelum berangkat ke kantor, Kirana berdiri di depan cermin di dekat pintu. Satu tangannya ia angkat ke atas, dan satu kakinya ia tekukkan. Ia berputar-putar. "Ayah, look. Like Gina. I am dancing....," kata Kirana.

Saya tak bisa berlama-lama menikmati "tarian" Kirana. Taksi dari kantor sudah menunggu di depan rumah. "That's enough, Kirana. Bye, see you tomorrow."

Pembicaraan bisu

Aku, Rani, dan Kirana dalam perjalanan pulang dari Kent, ketika handphone (HP) yang ada di saku bergetar. Aku ambil dan di layar tertera, ada pesan yang baru saja masuk. Aku pencet dan muncul pesan : hello om apa kabar dr agus. Dari kata-kata yang dipilih aku tahu ini sms dari kakak ipar yang ada di sebuah desa bernama Kembangan di Purbalingga, Jawa Tengah.

Berawal dari pesan singkat ini, kami seakan "berbicara" satu sama lain dan mengalirkan "pembicaraan bisu" melalui layar HP. Aku menjawab : kami baik-baik saja, dan salam untuk semuanya di sini. Aku juga sempat memberitahu kalau ada waktu tengok blog ini di internet. Mas Agus kemudian menjawab : salam juga unt semua semoga sll bahagia trim.

Beberapa hari lalu, Rani mendapat kiriman sms Elin, adiknya yang tengah ada di Bandung. Lain waktu mendapat pesan pendek dari Evi, teman yang ada di Jambi, Hendrat yang juga ada di Kembangan, atau keluarga di sebuah desa nun jauh di sana, bernama Welahan, Jepara, Jawa Tengah.

SMS menjadi alat komunikasi baru. Ketika email dan internet masih menjadi barang mewah di sebuah desa yang tidak ada saluran telepon, SMS memang menjadi alternatif yang memikat. Mudah, terjangkau (murah), dan seketika.

Ups, ada pesan masuk : "Happy New Year 2004" smg di thn ini ksuksesan slalu menyertai kita smua. Amin. Bapak sekluarga mengucapkn trima ksh atas bantuanya slama ini. Yang ini dari keluarga di Welahan. Selamat tahun baru juga, Pak...